Sebenarnya mengapa sih ada anak muda yang begitu ‘bersemangat” (pada awalnya) untuk mengabadikan “gairah cintanya (lebih tepatnya nafsu)” tapi kemudian menangis sesegukan begitu hasil “kreatifitasnya” itu menjadi gunjingan publik? ” Seharusnya konsisten dong, berani berbuat berani bertanggung jawab. Giliran ngerekam aja ketawa cekikikan sambil mendesah-desah nikmat. Giliran kebongkar, nangis sejadi-jadinya, minta tobat, mohon ampun. Dah basiiii,” seloroh kawan saya.
Memang untuk urusan seks ini sedari kecil kita sudah diajari tidak boleh jujur mengungkapkannya. Jangankan jujur, bicara soal “paha” saja bisa kena damprat habis-habisan. Padahal yang hendak dibicarakan hanya soal paha ayam kampong (bukan ayam kampus). Akibatnya kita memaknai sendiri aktivitas seksualitas kita dan sensasi-sensasi seks yang kita alami tanpa pembimbing. Tanpa control yang ketat. Kita melalui tahapan-tahapan sensasi seksualitas seorang diri. Atau kadangkala dibimbing teman sebaya yang sama-sama tak mengertinya.
Saya sendiri saja tidak paham sejak umur berapa mengenal seks. Tapi yang paling saya ingat ketika kelas 3 SMP kepala saya sudah bisa cenut-cenut kalau melihat gambar wanita berbikini di majalah milik tetangga yang kebetulan dipinjam oleh ibu saya. Tapi cenut-cenut di kepala itu disertai dengan perasaan nikmat yang entah darimana datangnya. Tapi memang waktu itu tak pernah tahu bagaimana cara menuntaskannya. Atau lebih tepatnya bagaimana cara “menyembuhkan” kepala yang cenut-cenut itu. Yang saya tahu setiap kali melihat cewek berbikini lama-lama, biasanya kenangan itu terbawa sampai ke mimpi. Dan saya bermimpi dipeluk perempuan berbikini sampai celana basah. Mencoba jujur sama orang tua soal ini? Tidak dech! Ini untuk pertamakalinya saya mencuci celana dalam dan sarung saya sendiri dengansembunyi-sembunyi. Alasannya sederhana agar tidak ketahuan orang tua. Agar pertanyaannya tidak terus berlanjut. Kala itu saya masih membayangkan bagaimana cara bermimpi lagi adegan seperti itu. Rasanya nikmat sekali. Ternyata bukan hanya gambar wanita berbikini yang saya tonton. Dari senior dan teman dewasa saya yang lainnya saya bisa mendapatkan 3 kartu remi bergambar adegan mesum yang saya beli seharga Rp. 2000/kartu (itu tahun 90-an). Namun ketika sudah menjelang lulus SMA kartu-kartu itu saya bagikan pada teman2 sekolah.
Rasa penasaran itulah yang kemudian membuat saya ‘naik kelas’ dalam masalah membangkitkan gairah. Di sekolah ternyata saya bertemu dengan kawan-kawan sebaya yang mengalami hal serupa. Kami saling berbagi cerita sambil tertawa cekikikan. Disaat-saat masih penasaran itulah saya disodori buku cerita mesum teman-teman pria saya (tepatnya senior, karena umurnya lebih dewasa dari saya) yang telah lebih dulu naik kelas “Advance” untuk urusan beginian. Mulai dari novel stensilan kelas kacang berlabel Nick Carter, novel karangan Freddy S, hingga novel yang benar-benar full menyuguhkan imajinasi seksual tingkat tinggi. Barangkali ada orang tua yang bangga ketika anaknya petantang-petenteng bawa buku bacaan tebal. Tapi tidak demikian dengan saya. Biasanya saya menyelipkan novel-novel itu di dalam buku pelajaran. Sehingga sepertinya saya sedang khusuk membaca buku pelajaran padahal sebenarnya sedang sibuk berimajinasi seksual dengan buku-buku stensilan itu.
Lewat buku-buku itulah saya mulai belajar menjadi laki-laki dewasa. Masturbasi. Menurut saya tahapan ini adalah tahapan yang pasti dijalani oleh semua pria di dunia ini. Meski tidak ada data yang kongkret—secara teoritis nyaris semua laki-laki entah ia itu pedagang asongan, tukang gerebek VCD/DVD porno, jenderal atau presiden sekalipun pasti pernah melakukan ini. Bahkan terdengar kabar kalau mantan presiden Amerika Bill Clinton, juga masih gemar ber-seks oral dengan pasangan selingkuhnya. Meski tingkatannya lebih tinggi, tapi intinya sama saja; onani/masturbasi. Pada tahap ini mau jujur pada orang tua? Ah, tidak dech. Bisa-bisa kena damprat habis-habisan. Atau malah orang tua bisa kena serangan jantung mendadak. Urusannya bisa gawat.
Pada hari pertama bermasturbasi ria itu ada rasa bersalah yang menghantui pikiran. Tapi toh ada juga pikiran untuk mengulanginya di hari kedua. Dan benar aktivitas itu diulangi juga, meski ada rasa bersalah tiap kali usai melakukannya. Terus begitu sampai akhirnya menjadi rutinitas. Efek kecanduannya mirip narkoba. Karenanya tak begitu heran jika mantan model kondang di masa 1980-an, Christie Brinkley, memutuskan menceraikan suaminya yang ketahuan ketagihan masturbasi melalui camera laptop.
Tanpa pembimbing. Tanpa guru. Tanpa mentor, saya akhirnya naik kelas lagi. Kini bukan hanya buku-buku stensilan yang saya lahap, melainkan film biru. Waktu pertama kali melihat, saya dibikin pusing kepala. Sampai mau muntah segala. Tapi setelah dua tiga kali menonton, pusing itu jadi sedikit berkurang karena diselingi rasa nikmat. Tak cukup juga sampai disitu, ketika mengenal internet, aktivitas petualangan syahwat dilanjutkan di dunia maya yang lebih luas dan memberikan banyak warna. Saya juga mulai mengenai yahoo messenger dan chat room. Di chat room itu saya bisa menonton adegan seks (karena dilengkapi dengan webcam) sambil berdialog dengan pelakunya. Menarik…seru dan tanpa batas.
Mungkin yang tak pernah saya lakukan hanyalah merekam aktivitas seks saya saja. Dan laki-laki dan perempuan di film yang dikirimi teman saya itu, mereka berhasil melebihi rekor yang saya raih. Mereka berhasil mengabadikan kisah percintaan (lebih tepatnya persenggamaan) mereka. Dan semua itu, semua tahapan itu dilalui tanpa kontrol.
Barangkali tak akan banyak pemuda-pemudi yang terjebak dalam aktivitas dan sensasi seksual mereka sendiri seandainya orang tua, guru, kakek/nenek mau terbuka membicaran seks dengan mereka. Artinya, diskusi tentang seks bukanlah diskusi soal persenggamaan semata, melainkan pemahaman tentang perubahan seksualitas dan lompatan-lompatan sensasi yang dialami tiap anak-anak muda. Dengan adanya diskusi terbuka ini, saya yakin anak-anak tak sampai terjerat dalam birahinya sendiri.
Mengeksplorasi sendiri. Ada kontrol, ada penjelasan logis tentang tahapan seksual, sehingga mereka bisa mengambil jalan keluar tidak seorang diri, melainkan bersama-sama dengan keluarga dekatnya dan orang-orang yang mereka percayai.
Tentu saja untuk mencapai ini diperlukan juga orang tua yang paham betul perubahan seksual. Bukan orang tua yang kolot dan ortodoks, yang memaknai fenomena social remaja dari sekedar pahala dan dosa belaka, melainkan dengan sudut pandang sosial dan psikologis. Dan ini penting. Orang tua masa kini harus bisa lebih terbuka dan demokratis membicarakan seks dan tahapan seksualitas yang bakal dilewati putra-putrinya. Tanpa sikap yang demokratis dan terbuka, kita akan selalu dihadapkan dengan kejutan-kejutan. Kita akan terkejut jika tiba-tiba anaknya menghamili atau dihamili pacarnya. Kita akan terkejut ketika anak-anak kita jadi bispak atau perek sepulang sekolah. Atau kita sebagai orang tua bisa koit jika tak sanggup menanggung kejutan itu. Padahal sebenarnya kejutan-kejutan itu terjadi karena kita sudah terlalu kehilangan banyak momen penting dari tahapan anak-anak kita. Dan kita tak pernah lagi dekat dengan anak-anak. Maka yang diperlukan hari-hari ini adalah kejujuran. Kita harus mengakui dengan jujur bahwa tahapan-tahapan seksual diatas juga pernah kita alami ketika menjadi remaja dulu. Dan kini sudah saatnya dibagi dan didiskusikan bersama dengan anak-anak kita. Siapa yang berani memulai?
JEJAK
- Artikel (63)
- Cerpen (2)
- Esai Budaya (8)
- Jendela Rumah (3)
- Kesehatan Masyarakat (3)
- Pendidikan (10)
- PUISI (4)
- Resensi Buku (15)
Senin, 2009 Juli 13
Dua Film Adegan Ranjang Kacong-Cebbing Madura (2)
Dua Film Adegan Ranjang Kacong-Cebbing Madura (1)
Seminggu lalu saya mendapatkan dua file film biru versi 3gp (file film untuk ditonton di Hp, red) dari teman saya. Film yang masing-masing berdurasi lima menit itu produksi madura asli. Artinya, sutradara, produser, dan pemeran utamanya anak muda madura. Bahkan kata teman saya si cewek masih kelas 1 SMA. Dibandingkan file pertama, file kedua film tersebut lebih seru. Pada file pertama saya hanya menyaksikan sebuah dialog mesra khas anak muda dengan sorotan kamera handphone yang tertuju pada si gadis yang telanjang bulat. “Tubuhmu sexy sekali, aku suka sayang,” begitu komentar si cowok di film itu sembari menzoom camera handphone kearah sela-sela paha si gadis. Pada file kedua saya menyaksikan adegan ranjang yang diiringi lagu hip-hop ala diskotik. Tentu saja disela-sela lalu itu terdengar juga suara desah, rintihan dan erangan yang memang tontonan orang dewasa.
Sebenarnya film ini telah beredar luas dan sempat heboh tiga bulan lalu. Bahkan saking hebohnya, bokap si cewek yang seorang guru ngaji di madura akhirnya koit melihat ulah anak ‘gadisnya’ yang jadi pembicaraan publik, malah masuk koran lokal segala. Pemeran cowoknya juga kini sedang berurusan dengan polisi. Sementara si cewek kabur keluar Madura. ” Mungkin jadi wanita jalang di jawa sana,” seloroh teman saya. Meski kesannya bercanda komentar teman saya itu mungkin ada benarnya. Banyak gadis belia terjerat lembah prostitusi karena mereka awalnya kehilangan keperawanannya dan merasa dirinya tak punya harga diri lagi hidup di masyarakat.
Secara pribadi saya sebenarnya iba dengan perempuan dalam film biru itu. Ia sebenarnya hanyalah tumbal dari budaya masyarakat yang paradoks. Masyakarat yang sebenarnya memiliki nafsu birahi yang tinggi dan menyukai hal-hal yang berbau pornografi dan sensualitas, tetapi malu mengungkapkannya di hadapan publik. Rasa malu itu dibungkusnya rapat-rapat dengan dalih agama, budaya madura yang beradab dan sebagainya.
Lihat saja ketika film-film itu saya tunjukkan pada tetangga-tetangga saya yang rata-rata tuwir. Mereka hampir serempak komentar; “Transfer ke Hp saya juga. Saya mau menontonnya di rumah,” ujar mereka. Tapi apa komentar mereka ketika saya Tanya tentang perempuan di film itu? “ia wanita nggak bener. Layak dapat ganjaran,” komentar salah satu tetangga saya. ”Tapi mengapa bapaknya yang akhirnya dipanggil yang kuasa. Mengapa tidak perempuan itu saja yang dicabut nyawanya, biar disiksa sama malaikat,” ungkap yang lainnya lagi. Si cowok dalam film itu (yang sebenarnya ia yang berinisiatif mengabadikan ‘tanda cinta-nya’ di handphone) nyaris tak disebut-sebut sebagai biang kerok. Artinya, dalam kondisi ini lagi-lagi perempuan jadi biangkeladi segala yang berbau nafsu birahi.
Begitulah masyarakat patriakat selalu menganggap perempuan tak lebih hanya sejenis makhkluk hidup yang dianggap ‘najis’ dan harus dijinakkan agar tidak menjadi liar. Membatasi ruang gerak perempuan dalam dapur, sumur dan kasur dan bertekuk lutut di hadapan suami adalah cara yang paling ampuh menjinakkan perempuan. Pahadal kalau mau jujur iklan-iklan di televisi yang menjadikan perempuan seksi sebagai bintang utamanya hanyalah sekedar memuaskan nafsu birahi laki-laki yang sebenarnya amat terbatas itu. Dan si perempuan pasrah saja dijadikan alat pemuas belaka.
Tentunya disini saya tak hendak berbicara bahwa perempuan adalah musuh lelaki atau sebaliknya. Justru disini saya hendak menunjukkan sebuah system yang menindas dimana hanya ambisi-ambisi mengusai yang dikedepankan. Bukan peluang-peluang mencapai kesejahteraan yang dicarikan jalan pulang. Dan kasus maraknya video mesum di kalangan pelajar akhir-akhir ini sebenarnya adalah puncak dari gunung es kesalahpahaman kita memaknai pornografi.
Sudah sejak zaman saya sekolah dulu kasus hamil di luar nikah sudah jadi umum di kalangan pelajar. Saya bahkan pernah dua kali mengantarkan teman cowok saya yang kebetulan ceweknya terlambat datang bulan ke dukun beranak untuk menggugurkan kandungan. Teman-teman saya juga tahu bidan mana yang bisa diajak kompromi untuk menggugurkan kandungan ketika pasangannya ketahuan hamil. Dan semua itu ada di madura.
Artinya, seks yang dianggap tabu di kalangan masyarakat justru telah jadi bagian aktivitas bawah tanah kalangan pelajar. Televisi yang mempertontonkan film barat dengan adegan mesum yang seringkali bikin syahwat anak-anak SMA mencak-mencak adalah guru paling setia dalam hal ini. Lewat televisilah mereka belajar seks. Dan seringkali aktivitas-aktivitas seks itu dilakukan tanpa control, tanpa pemahaman yang ketat soal reproduksi. Akibatnya si perempuan kembali menjadi tumbalnya. Akan lain ceritanya mungkin ketika masyakat kita mau secara jujur mengakui bahwa kebudayaannya kini adalah kebudayaan universal. Madura toh tak sebersih yang dibayangkan banyak orang. Mulai terbukalah. Karena itu pendidikan seks perlu diajarkan secara universal tanpa ada ketabuan atau risih ketika mengungkapkannya.
Sekolah-sekolah harus mulai berani mengajarkan cara seks yang aman. Dengan begitu anak-anak muda tak perlu harus sembunyi-sembunyi melakukan aktivitas seksual.
Dan tak perlu harus lari dari rumah ketika ketahuan adegan ranjangnya dengan sang pacar tersebar luas via internet. Sehingga anak-anak perempuan kita tak harus jadi mangsa lembah prostitusi ketika mereka merasa dirinya tak berarti pasca keperawanannya direnggut pacar (dan sang pacar melarikan diri tanpa mau bertanggungjawab). Masyarakat tak perlu memberikan vonis. Biarlah pelakunya saja yang menentukan nasibnya sendiri. Dan satu hal yang harus dipahami jangan beradegan ranjang di depan kamera. Karena siapapun kalau ia manusia pasti doyan menontonnya.
Kamis, 2009 Juli 02
Jalan Pulang-Luka-Elegi
JALAN PULANG
Oh, Hawa
mengapa tidak kau catat jejak purba kepulangan kita di pintu gerbang
agar semua tahu bahwa Adam selalu pulang lewat pintu belakang
Tretes, 30 Juni 2009
***
MERUWAT LUKA
waktu terus memahat diorama baka
detikdetik jatuh, kalender beruban mencatat hari tua
aku mengelana dari puisi ke puisi, meruwat luka
menanggalkan sephia di sisa usia
Tretes, 30 Juni 2009
***
ELEGI PEMULUNG
aku tak sedang membaca
puisi ajalmu, meski
kau berkalikali membisikkan kata penghabisan
sebab kulihat tanganmu yang kasar
masih saja lembut mengusapkan doa
pada setiap sampah yang kau pungut;
“kugantungkan sisa usia, pada najis yang kau bawa”
hidupmu tak diawali dengan sepotong roti
segelas kopi dan berita selebriti
hidupmu hanya sebungkus nasi sisa
yang sempat kau pungut di belakang plasa ketika senja
dan setiap suap yang kau telan
bukan hanya mengganjal lapar, tapi juga untuk memeras air mata
sebab disetiap sampah yang kau pungut tercatat skandal pemiskinan
tapi disetiap tetes airmatamu terbesit daya tahan
dan nyalang pemberontakan yang menjelma kampung halaman
aku tak sedang membaca
sajak kematianmu, karena
jejakmu telah menjelma peta
jalan pulang kita
Madura, Juli 2009

